Sebanyak 289 jiwa masih membutuhkan akses jalan yang layak. Warga berharap perbaikan jembatan dan jalan segera tuntas agar mobilitas masyarakat serta distribusi hasil pertanian kembali lancar
Tapanuli Tengah, hariankabarnusantara.com | Semangat gotong royong ditunjukkan masyarakat Desa Aek Bottar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, melalui upaya perbaikan jembatan yang menjadi salah satu akses penting bagi aktivitas warga. Perbaikan tersebut dilakukan untuk membantu memulihkan konektivitas masyarakat sekaligus memperlancar kegiatan ekonomi yang selama ini terkendala kondisi infrastruktur.
Menurut keterangan warga, Jhon Pradot Sihombing, sebanyak 65 kepala keluarga (KK) di Desa Aek Bottar masih mengalami keterisolasian akibat terbatasnya akses jalan. Ia menyebut terdapat 289 jiwa yang masih membutuhkan akses transportasi memadai agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mengangkut hasil pertanian.
“Masih ada 289 jiwa saudara-saudari kami yang membutuhkan akses jalan,” demikian keterangan yang disampaikan terkait kondisi masyarakat setempat, Rabu (21/10/2026). Ia juga menyampaikan harapan agar akses jalan segera diperbaiki sehingga warga tidak terus-menerus menghadapi hambatan mobilitas.
Persoalan infrastruktur di Aek Bottar sebenarnya telah menjadi perhatian masyarakat sejak sebelum bencana banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Dalam pemberitaan pada 1 November 2024, kebutuhan pembukaan jalan usaha tani dan pembangunan tembok penahan tanah telah disampaikan sebagai prioritas desa. Kepala Desa Aek Bottar saat itu, Suwardi Meha, menjelaskan bahwa kondisi jalan yang rawan longsor menghambat pengangkutan getah karet dan hasil pertanian lainnya.
Kondisi keterisolasian desa juga tercatat dalam pemberitaan ANTARA pada 30 Januari 2026. Saat itu, Aek Bontar termasuk salah satu dari empat desa di Kecamatan Tukka yang dilaporkan masih terisolasi sekitar dua bulan setelah banjir bandang dan longsor. Kerusakan jalan dan jembatan menjadi tantangan dalam pemulihan akses masyarakat.
Bagi masyarakat Aek Bottar, perbaikan jembatan bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan kebutuhan mendasar untuk memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi. Akses yang memadai diperlukan agar warga lebih mudah menjangkau layanan kesehatan, pendidikan, kebutuhan pokok, serta jalur pemasaran hasil pertanian.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memastikan penanganan jalan dan jembatan dilakukan secara terencana, aman, dan berkelanjutan. Gotong royong masyarakat menjadi langkah penting dalam kondisi darurat, tetapi pemulihan infrastruktur yang menyeluruh tetap memerlukan dukungan teknis dan kebijakan pemerintah.
Dengan terbukanya kembali akses jalan, masyarakat berharap aktivitas ekonomi Desa Aek Bottar dapat berangsur pulih dan 65 KK yang disebut masih terisolir tidak lagi menghadapi kesulitan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.(Red)