PM Malaysia Anwar Ibrahim : Siap Jadi Fasilitator Perdamaian Saat Ketegangan Kembali Meningkat
Malaysia, hariankabarnusantara.com | Malaysia menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah putaran baru pembicaraan damai untuk meredakan ketegangan yang kembali mencuat di perbatasan Thailand dan Kamboja. Tawaran ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan pada Kamis (13/11/2025), meski Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan negaranya akan bertindak berdasarkan kepentingannya sendiri tanpa meminta persetujuan pihak lain.
Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara saling menuduh terjadinya bentrokan baru di kawasan perbatasan. Thailand pada Senin lalu menangguhkan implementasi perjanjian damai setelah dua tentaranya terluka akibat ledakan ranjau. Sementara itu, Kamboja mengevakuasi ratusan warga dari desa yang berada di perbatasan sengketa, menyusul kabar bahwa seorang warga tewas dalam kontak tembak yang melibatkan kedua pihak.
Melalui unggahan media sosial, Anwar mengatakan dirinya telah berkomunikasi via telepon dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Ia menyebut bahwa kedua pemimpin kembali menegaskan komitmen untuk mencari penyelesaian damai sesuai kesepahaman dalam Kuala Lumpur Peace Accord, yang disaksikan juga oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat KTT ASEAN bulan lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri rangkaian bentrokan yang sebelumnya menewaskan puluhan orang dan memaksa lebih dari 300 ribu penduduk mengungsi.
Anwar menegaskan bahwa persahabatan dan gencatan senjata kedua negara harus diperkokoh, sekaligus menekankan kesiapan Malaysia untuk terus mengambil peran sebagai fasilitator proses perdamaian. Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan menambahkan bahwa perundingan lanjutan diperkirakan segera digelar, dengan Kuala Lumpur menjadi lokasi yang diusulkan oleh Thailand maupun Kamboja.
Di sisi lain, Hun Manet menuduh insiden baku tembak terbaru terjadi karena provokasi berkepanjangan dari pasukan Thailand, meskipun ia menegaskan Kamboja tetap menghormati kesepakatan gencatan senjata. Anutin, menanggapi potensi tekanan dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa pemerintahnya siap mengutamakan keamanan nasional meski harus menghadapi risiko kenaikan tarif dagang.
Setelah Thailand dan Kamboja menyepakati gencatan senjata awal pada Juli lalu, deklarasi bersama yang diteken kembali pada Oktober mencakup komitmen untuk menarik persenjataan berat dari perbatasan, menghentikan retorika provokatif, serta melanjutkan pembersihan ranjau di area rawan. Thailand juga sepakat membebaskan 18 prajurit Kamboja yang ditahan beberapa bulan terakhir. Meski disebut sebagai perjanjian damai oleh sejumlah pemimpin, dokumen tersebut secara resmi hanya berstatus deklarasi bersama, yang menurut Menlu Thailand menjadi jalur menuju perdamaian penuh.
Peran Malaysia dalam meredakan konflik ini sebelumnya mendapat pujian dari kedua pemimpin negara bertikai, yang melihat upaya mediasi tersebut penting bagi stabilitas kawasan dan persatuan ASEAN.
Sumber : CNA Insider