Gagal menjadi prajurit tak membuat cita-cita padam. Dari ruang kelas, seorang guru justru mengantarkan siswanya menuju Akademi Militer
Bekasi, hariankabarnusantara.com | Tidak semua cita-cita harus diwujudkan oleh orang yang pertama kali memimpikannya. Ada kalanya sebuah impian menemukan jalannya melalui orang lain, bahkan melalui generasi yang pernah dididik dan dibimbing.
Kisah itu dialami Sigit Edi Siswanto, guru di SD Islam Teratai Putih Global Bekasi. Semasa muda, pria asal Magelang tersebut pernah menyimpan cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Seragam loreng dan kehidupan sebagai prajurit menjadi gambaran pengabdian yang ingin dijalaninya.
Namun, cita-cita itu belum berhasil diwujudkan. Perjalanan hidup justru membawanya ke dunia pendidikan. Sigit memilih menjadi guru dan menghabiskan waktunya mendidik anak-anak di ruang kelas.
Pilihan tersebut ternyata bukan akhir dari mimpinya.
Sebagai pendidik, Sigit tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik. Ia juga menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras dan keberanian kepada para siswa. Nilai-nilai yang dahulu begitu dekat dengan impiannya menjadi seorang prajurit kini ia wariskan kepada generasi muda.
Hingga sebuah kabar datang dan membuat perjalanan hidup Sigit seolah menemukan titik temu.
Salah seorang alumni SD Islam Teratai Putih Global, M. Arya Prawira Putra, berhasil diterima di Akademi Militer (Akmil) Lembah Tidar, Magelang. Arya kini menapaki jalan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI.
Bagi Sigit, keberhasilan tersebut bukan sekadar prestasi seorang alumni. Ada haru dan kebanggaan yang lebih dalam ketika melihat anak didiknya berhasil mencapai sesuatu yang dahulu pernah menjadi impiannya.
“Dulu beliau pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang TNI. Walaupun cita-cita itu belum terwujud, ternyata Allah memberikan jalan lain yang tidak kalah mulianya. Beliau menjadi seorang guru, dan melalui perannya sebagai pendidik, beliau justru berhasil mengantarkan salah satu siswanya untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang TNI,” demikian ungkapan yang menggambarkan perjalanan tersebut.
Kisah itu sekaligus memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang guru tidak selalu diukur dari pencapaian dirinya sendiri. Ada keberhasilan lain yang jauh lebih bermakna ketika melihat anak didiknya mampu berdiri di tempat yang selama ini mereka impikan.
“Menjadi guru bukan berarti meninggalkan cita-cita. Justru beliau membuktikan bahwa cita-cita itu dapat diteruskan melalui generasi yang beliau didik,” ujarnya.
Bagi seorang pendidik, keberhasilan siswa tentu menjadi kebanggaan. Namun, bagi Sigit, pencapaian Arya seperti membuka kembali halaman lama dalam perjalanan hidupnya.
Mimpi masa muda yang pernah tertunda itu seakan hadir kembali.
Hanya saja, kali ini bukan Sigit yang mengenakan seragam prajurit.
Melainkan anak didiknya.
Di situlah kisah tersebut menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang guru dan siswa. Sigit mungkin tidak menjalani kehidupan sebagai prajurit seperti yang pernah dibayangkannya. Tetapi melalui profesinya sebagai guru, ia mengambil bagian dalam perjalanan seorang anak muda menuju Akademi Militer.
Cita-cita yang pernah tertunda ternyata tidak benar-benar hilang. Ia menemukan jalan lain melalui tangan seorang guru, perjuangan seorang siswa dan generasi yang meneruskan mimpi tersebut.
Perjalanan Sigit menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang dahulu ia bayangkan. Terkadang, jalan yang berbeda justru membuka kesempatan untuk membantu orang lain mencapai tujuan.
Seorang guru tidak harus menjadi apa yang dahulu dicita-citakannya untuk disebut berhasil. Ia cukup mampu menyalakan mimpi dalam diri anak didiknya, mendampingi mereka melewati proses, kemudian ikut tersenyum ketika melihat mereka mencapai garis yang pernah mereka impikan.
Mimpi Sigit memang pernah tertunda. Tetapi dari mimpi itu lahir sebuah kebanggaan.
Seorang prajurit yang pernah menjadi siswanya.
Dan mungkin, di sanalah makna keberhasilan seorang guru menemukan bentuknya yang paling indah.(Red)